Salam kami kepada masyarakat Yogyakarta yang budiman, yang memaki-maki aksi kami yang dengan sengaja kami tujukan untuk menyerang institusi Kraton di Yogyakarta.

Percayalah, kami tahu betul, bahkan sebelum aksi ini kami jalankan, akan banyak antipati masyarakat terhadap aksi kami. Hal ini sangat bisa dipahami. Feodalisme membentuk kepercayaan bahwa raja dan golongan bangsawan hampir mirip seperti manusia-manusia separuh dewa; kekuasaannya sakral dan memiliki justifikasi dengan sendirinya. Seseorang menjadi penguasa di dalam sistem feodal karena ia kebetulan lahir dalam keluarga yang tepat: keluarga bangsawan. Seluruh wilayah kekuasaan kerajaan adalah milik sang raja dan keluarga bangsawannya, dan rakyat hanya menumpang tinggal di wilayah kerajaan tersebut, bisa sewaktu-waktu terusir bila sang raja berkehendak demikian.
Sistem ini ditopang, salah satunya, oleh kepercayaan-kepercayaan irasional mengenai kekuasaan feodal. Dalam konteks Yogyakarta, feodalisme lah yang membuat Yogyakarta menjadi “istimewa”. Secara politik, status istimewa ini berarti wilayah Yogyakarta sebagai provinsi dikepalai oleh Gubernur yang tak dipilih melalui pemilu layaknya provinsi-provinsi lain, melainkan oleh Gubernur yang sekaligus adalah Sultan. Namun secara sosio-kultural, status istimewa ini memiliki makna lain; ia memberikan kebanggaan semu kepada masyarakat Yogyakarta. Yogyakarta menjadi istimewa karena dikuasai oleh seorang Sultan dan masyarakatnya bangga akan hal itu.
Apa yang bisa dibanggakan dari dikuasai oleh seseorang dengan kekuasaan yang tak terbatas? Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi lebih rendah dari manusia lain, mudah diatur-atur seenaknya, semata-mata karena ia lahir dari keluarga bangsawan?
Aksi kami, tidak kami lakukan untuk mendulang simpati. Jika mendulang simpati adalah tujuan kami, lebih baik melakukan aksi yang tidak menggangu jalannya reproduksi nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Tidak, aksi kami bukan untuk itu. Kami bukan partai politik, organisisi “kiri”, LSM, ataupun pendukung penguasa politik incumbent maupun oposisi yang memerlukan dukungan dan simpati masyarakat.
KAMI JUGA BUKAN BAGIAN DARI PMII, FAIZI ZAIN DAN KAWAN-KAWANNYA YANG SEBENARNYA MENGHENDAKI KERUSUHAN DAN MENGANGKAT ISU DILENGSERKANNYA JOKOWI DEMI KEPENTINGAN TUAN-TUAN POLITIK MEREKA! MEREKA ADALAH BROKER POLITIK!
Aksi kami adalah aksi untuk menganggu proses perputaran modal di Yogyakarta. Kami memang ingin membuat kondisi Yogyakarta tidak kondusif untuk penanaman modal, nasional maupun asing, yang jelas akan semakin mendorong pembangunan yang menyingkirkan masyarakat kelas menengah dan bawah di Yogyakarta.
Kami sudah menerka-nerka, bahwa masyarakat akan murka dengan aksi vandal yang kami lakukan serta seruan-seruan provokatif yang kami kumandangkan.
